Selasa, 10 Juni 2014

TUGAS 3 : ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT UNILEVER Tbk TAHUN 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Bidang keuangan merupakan bidang yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Banyak perusahaan yang berskala besar atau kecil, akan mempunyai perhatian besar di bidang keuangan, terutama dalam perkembangan dunia usaha yang semakin maju, persaingan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya semakin ketat, belum lagi kondisi perekonomian yang tidak menentu meneyebabkan banyaknya perusahaan yang mengalami kebangkrutan. Oleh karena itu, agar perusahaan dapat bertahan dan dapat berkembang, perusahaan harus mencermati kondisi dan kinerja perusahaan. Untuk mengetahui denga tepat bagaimana kondisi dan kinerja perusahaan maka diperlukan suatu analisi yang tepat.
Media yang tepat dipakai untuk menilai kinerja perusaan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data keuangan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan atau ikhtisar lainnya yang sehingga dapat digunakan untuk membantu  para pemakai di dalam menilai kinerja perusahaan sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Laporan keuangan digunakan oleh manajer untuk meningkatan kinerja, oleh kreditor untuk mengevaluasi kemungkinan dibayarnya pinjaman, dan oleh pemegang saham untuk meramalkan laba , dividen, dan harga saham.
Untuk menilai kinerja perusahaan, diperlukan beberapa tolok ukur. Tolok ukur yang sering digunakan adalah rasio atau indeks, yang mnghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya. Analisis dan intreprestasi dari macam-macam rasio dapat memberikan pandangan yang lebih baik tentang kinerja perusahaan dibandingkan analisi yang hanya didasarkan atas data keuangan sendiri-sendiri yang tidak berbentuk rasio.
Analisis laporan keuangan akan lebih tajam apabila angka-angka keuangan dibandingkan dengan standar tertentu. Standar tersebut dapat berupa, standar internal yang ditetapkan manajemen, perbandingan historis atau membandingkan angka-angka keuangan dengan angka-angka masa sebelumnya, pembandingan dengan perusahaan atau industry sejenis. Tanpa perbandingan, tidak akan diketahui apakah kinerja suatu perusahaan menunjukkan perbaikan atau menunjukkan penurunan.
PT Unilever Tbk adalah perusahaan kosmetik dan perlengkapan rumah tangga yang brand produknya sangat dikenal masyarakat antara lain brand ponds, pepsodent, dll. Dengan perusahaan seperti unilever dengan produk – produknya yang menjadi market leader dapat memungkinkan karena kinerja keuangan perusahaannya juga baik
Berdasarkan uraian di atas, maka kami akan menilai kinerja dalam makalah ini yang berjudul Analisis Kinerja laporan keuangan pada PT Unilever. Tbk dan Tahun 2012

1.2              Rumusan Masalah
Bagaimana kinerja keuangan dari PT Matahari Unilever Tbk?

1.3              Batasan Masalah
Adapun dalam penulisan ini penulis hanya akan menganalisis laporan keuangan periode 1 Januari – 31 Desember 2012.

1.4              Tujuan Masalah
Untuk mengetahui kinerja keuangan dari PT Matahari Departemen Store Tbk


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Laporan Keuangan
2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan
Berdasarkan pendapat Slamet Munawir (2002, p2), laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk
berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihakpihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.
         Berdasarkan pendapat Agnes Sawir (2005, p2), media yang dapat dipakai untuk
 meneliti kondisi kesehatan perusahaan adalah laporan keuangan yang terdiri dari neraca, perhitungan laba-rugi, ikhtisar laba yang ditahan, dan laporan posisi keuangan. Laporan
keuangan adalah hasil akhir proses akuntansi. Setiap transaksi yang dapat diukur dengan nilai uang, dicatat dan diolah sedemikian rupa. Laporan akhir pun disajikan dalam nilai uang. Menurut pendapat Harry Supangkat (2005, p20), laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses pencatatan, penggabungan, dan pengikhtisaran semua transaksi yang dilakukan perusahaan dengan seluruh pihak terkait dengan kegiatan usahanya dan peristiwa penting yang terjadi di perusahaan.
Menurut G. Sugiyarso dan F. Winarni (2006, p8), laporan keuangan merupakan daftar ringkasan akhir transaksi keuangan organisasi yang menunjukkan semua kegiatan operasional organisasi dan akibatnya selama tahun baku yang bersangkutan. Pengertian laporan keuangan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2004, p2) adalah sebagai berikut: Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi Neraca, Laporan Laba-Rugi, Laporan Perubahan Posisi Keuangan (yang disajikan dalam berbagai cara, seperti misalnya, sebagai Laporan Arus Kas atau Laporan Arus Dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa suatu laporan keuangan itu meliputi dua hal pokok, yaitu: Neraca dan Laporan Laba-Rugi. Neraca mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal sendiri pada saat tertentu. Laporan Laba-Rugi mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama suatu periode tertentu, biasanya meliputi periode satu tahun.

2.1.2 Tujuan Laporan Keuangan
            Berdasarkan pendapat Ikatan Akuntansi Indonesia (2004, p4), tujuan laporan
keuangan adalah sebagai berikut:
a) Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja dan
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi   sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
b) Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh      sebagian besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu.
c) Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Menurut Rudianto (2006, p98), secara umum laporan keuangan disusun dengan beberapa tujuan, diantaranya yaitu:
a) Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai
    sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta modal suatu perusahaan.
 b) Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan     sumber-sumber ekonomi dan kewajiban, seperti informasi mengenai aktivitas pembelanjaan dan investasi.
c) Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan
dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan,   seperti informasi mengenai kebijakan akuntasi yang digunakan.

2.1.3 Pemakai Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2004, p2), pemakai laporan keuangan
meliputi investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda. Beberapa kebutuhan ini meliputi:
a) Investor.
    Penanam modal berisiko dan penasihat mereka berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar deviden.
b) Karyawan.
Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.
c) Pemberi Pinjaman.
Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
d) Pemasok dan kreditor usaha lainnya.
Pemasok dan kreditor usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi
pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama mereka tergantung pada
kelangsungan hidup perusahaan.
e) Pelanggan.
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan
hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung pada perusahaan.
f) Pemerintah.
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun stastistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
g) Masyarakat.
Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya, perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.
Menurut pendapat Marisi P. Purba dan Andreas (2006, p2-4), Pemakai laporan keuangan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pemakai internal dan pemakai eksternal.
a) Pemakai Internal
• Manajemen.
Manajemen berkepentingan melihat besar kecilnya laba perusahaan untuk melakukan evaluasi kinerja keuangan. Laporan keuangan juga dapat menentukan strategi, pengawasan serta menjadi ukuran dalam memberikan insentif karyawan. Manajemen juga bertanggung jawab atas penyajian dan penyusunan laporan keuangan.
b) Pemakai Eksternal
• Penanam Modal.
Penanam modal dan penasihatnya berkepentingan dengan risiko yang melekat pada investasi mereka serta berapa besar deviden yang akan mereka peroleh. Mereka juga akan mengambil keputusan, apakah akan tetap berinvestasi atau menarik investasi yang telah dilakukan.
• Pemberi Pinjaman.
Pemberi pinjaman terutama bank, tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk mengetahui apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar oleh perusahan pada saat jatuh tempo.
• Pemasok dan Kreditor Usaha lainnya.
Pemasok dan kreditor usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dengan tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman. Jika perusahaan adalah pelanggan utama mereka, maka berkepentingan untuk mengetahui kelangsungan hidup perusahaan.
• Pelanggan.
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung pada perusahaan.
• Pemerintah dan Badan Regulator lainnya.
Pemerintah dan badan regulasi lainnya berkepentingan terhadap aktivitas perusahaan. Pemerintah dan badan regulasi lainnya membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistic pendapatan Nasional dan statistik lainnya. Lembaga Negara selain pemerintah yang berkepentingan atas laporan keuangan adalah Bank Indonesia. Dalam melakukan analisa Capital Adequacy Ratio atau CAR secara Nasional, Bank Indonesia mengumpulkan informasi dari laporan keuangan bank yang dilaporkan secara berkala.

• Masyarakat.
Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misal, Perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian Nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan, serta rangkaian aktivitasnya.
• Karyawan.
Karyawan berkepentingan melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun dan kesempatan kerja.

2.1.4 Komponen Laporan Keuangan
Secara umum laporan keuangan terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
 a) Neraca, adalah laporan keuangan yang memperlihatkan jumlah dan sifat
   aktiva, kewajiban dan ekuitas pemilik usaha pada saat tertentu.
• Aktiva, adalah sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan yang
  biasanya dinyatakan dalam satuan uang.
• Kewajiban, adalah utang yang harus dibayar perusahaan dengan uang atau   jasa pada suatu saat tertentu di masa yang akan datang.
• Modal, adalah hak pemilik perusahaan atas kekayaan perusahaan.
  Berdasarkan pendapat Agnes Sawir (2005, p3), neraca merupakan laporan  yang memberikan informasi mengenai jumlah harta, utang, dan modal perusahaan pada saat tertentu. Secara garis besar, neraca memberikan informasi mengenai sumber dan penggunaan dana perusahaan.
b) Laporan Laba-Rugi, adalah suatu daftar yang menggambarkan hasil operasi perusahaan pada suatu periode waktu tertentu. Di dalamnya terdiri dari pendapatan dan beban. Bila pendapatan lebih besar dari beban, maka perusahaan akan mendapatkan laba dan bila pendapatan lebih kecil dari beban, maka perusahaan akan menderita kerugian.
• Pendapatan, adalah aliran penerimaan kas/harta lain yang diterima dari      konsumen sebagai hasil penjualan barang atau pemberian jasa.
• Beban, adalah harga pokok barang yang dijual dan jasa-jasa yang dikonsumsi   untuk menghasilkan pendapatan.
Berdasarkan pendapat Agnes Sawir (2005, p4), laporan laba-rugi merupakan laporan mengenai pendapatan, biaya-biaya, dan laba perusahaan selama periode tertentu.
c) Laporan Perubahan Modal, adalah suatu daftar informasi yang
menggambarkan tentang perubahan modal pemilik. Perubahan ini biasa disebabkan karena ada tambahan modal atau disebabkan adanya prive (pengambilan untuk kepentingan pribadi pemilik).
d) Laporan Arus Kas, adalah suatu daftar informasi yang melaporkan
penerimaan dan pengeluaran kas entitas selama periode tertentu, serta dari mana kas datang dan bagaimana kas tersebut dibelanjakan. Di dalam laporan ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
• Aktivitas Operasi, yang berhubungan dengan transaksi-transaksi yang menghasilkan laba bersih.
• Aktivitas Investasi, yang berkaitan dengan akun-akun dalam aktiva tetap.
• Aktivitas Pendanaan, yang berkaitan dengan akun kewajiban dan ekuitas pemilik.
Berdasarkan pendapat Harry Supangkat (2005, p43-44), pada dasarnya perusahaan harus membuat tiga macam laporan keuangan, yaitu:
a) Neraca; adalah ringkasan mengenai posisi keuangan pada tanggal tertentu
yang menunjukkan Aktiva sama dengan Kewajiban ditambah Ekuitas. Aktiva terdiri atas Aktiva Lancar dan Aktiva Tidak Lancar, sedangkan Kewajiban terdiri atas Kewajiban Jangka Pendek dan Kewajiban Jangka Panjang.
Definisi lancar dan jangka pendek adalah periode yang kurang dari satu tahun, sedangkan definisi tidak lancar dan jangka panjang adalah periode waktu yang lebih lama dari satu tahun. Adapun Ekuitas adalah modal sendiri Pemilik yang merupakan selisih antara nilai buku Aktiva dan Kewajiban.
b) Laporan Laba Rugi; adalah ringkasan mengenai Pendapatan dan Biaya yang selisih antara keduanya akan menunjukkan Laba atau Rugi yang diperoleh perusahaan selama periode tertentu. Pembuatan Laporan Laba Rugi dilakukan berdasarkan prinsip akrual di mana Pendapatan dan Biaya akan dicatat pada saat terjadinya bukan pada saat diterima atau dibayarkannya.
c) Laporan Arus Kas; adalah ringkasan mengenai transaksi dalam bentuk kas yang berasal dari tiga macam kegiatan yang dilakukan perusahaan, yaitu Kegiatan Operasi, Kegiatan Investasi, dan Kegiatan Pendanaan.

2.2 Analisa Rasio Keuangan
2.2.1 Pengertian Rasio Keuangan
Berdasarkan pendapat Agnes Sawir (2005, p6), untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perusahaan, analis keuangan memerlukan beberapa tolak ukur. Tolak ukur yang sering dipakai adalah rasio atau indeks, yang menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya.
Menurut pendapat Slamet Munawir (2002, p37), analisa rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan rugi-laba secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut. Artinya
berdasarkan data-data yang terdapat dalam laporan keuangan baik dari neraca, laporan laba-rugi, maupun kedua-duanya dapat dihitung bermacam-macam jenis rasio yang dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan untuk kelangsungan hidup perusahaan.

2.2.2 Kegunaan Rasio-rasio Keuangan
Menurut pendapat Agnes Sawir (2005, p6), analisis rasio keuangan, yang
menghubungkan unsur-unsur neraca dan perhitungan laba-rugi satu dengan lainnya,
dapat memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan dan penilaian posisinya pada
saat ini. Analisis rasio juga memungkinkan manajer keuangan memperkirakan reaksi parakreditor dan investor dan memberikan pandangan ke dalam tentang bagaimana kira-kira dana dapat diperoleh.

2.2.3 Penggunaan Analisa Rasio
Menurut pendapat Agnes Sawir (2005, p6), rasio analisis keuangan meliputi dua jenis perbandingan, yaitu:
a) Perbandingan Internal.
Memperbandingkan rasio sekarang dengan yang lalu untuk perusahaan yang sama. Jika rasio keuangan disajikan dalam bentuk suatu daftar untuk periode beberapa tahun, analis dapat mempelajari komposisi perubahanperubahan dan menetapkan apakah telah terdapat suatu perbaikan atau bahkan sebaliknya di dalam kondisi keuangan dan prestasi perusahaan selama jangka waktu tersebut.
b) Perbandingan Eksternal.
Perbandingan meliputi perbandingan rasio perusahaan dengan perusahaan lainnya yang sejenis atau dengan rata-rata industri pada satu titik yang sama. Perbandingan tersebut dapat memberikan gambaran relatif tentang kondisi keuangan dan prestasi perusahaan.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Analisis Laporan Keuangan PT Unilever, Tbk

1)      Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan suatu entitas  untuk memenuhi kewajibannya yang harus segera dipenuhi.
a.       Current Ratio
Rasio ini menunjukkan posisi kas entitas dan kemampuan memenuhi kewajiban atau hutang jangka pendek.
 Current Ratio = Aktiva Lancar : Hutang lancar x 100%




Tabel 1
Perhitungan Current Ratio PT. Unilever Tbk
 Tahun 2012
                                                                                                (Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
Aktiva Lancar
Hutang lancar
2012
5.035.962
7.535.896



Pada tahun 2012 Current Ratio sebesar 68%, artinya setiap hutang lancar Rp 1,00 dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 0,68.
                        Dapat dilihat dari perhitungan diatas tahun 2012 bahwa posisi keuangan entitas  dalam keadaan illiquid tidak sehat karena entitas tidak mampu menjamin hutang lancar. Hal ini berarti aktiva lancar tidak dapat dijadikan jaminan untuk membayar hutang apabila terjadi likuidasi.

b.      Quick Ratio
Rasio ini menunjukkan kemampuan dalam menyediakan kas dan aktiva lainnya yang dapat dilikuidasikan dengan segera jika diperlukan.
 Quick Ratio = (Aktiva Lancar- Persediaan) : Hutang Lancar

Tabel 2
Perhitungan Quick Ratio PT. Unilever Tbk
                                   Tahun 2012                                                 
                                                                                                (Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
Aktiva Lancar
Persediaan
Hutang Lancar
2012
5.035.962
2.061.899
7.535.896


Pada tahun 2012 hasil perhitungan quick ratio quick ratio sebesar 39% artinya setiap hutang lancar Rp 1,00 dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 0,39. Dari perhitungan diatas terlihat bahwa quick ratio dibawah standar yaitu kurang dari 100%, sehingga semua aktiva lancar selain persediaan tidak dapat dijadikan jaminan untuk membayar hutang lancar.

2)      Rasio Profitabilitas
Rasio ini menunjukkan kemampuan entitas untuk mendapatkan laba dari setiap penjualan yang dilakukan.

a)      Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin)
Rasio ini mencerminkan kemampuan manajemen untuk menghasilkan laba setelah harga pokok penjualan, beban operasi/usaha, beban lain-lain dan pajak dalam hubungannya dengan penjualan.
 NPM = EAT : Penjualan Bersih

Tabel 5
Perhitungan Net Profit Margin PT. Unilever Tbk
                                                       Tahun 2012                     
                                                                                                (Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
EAT
Penjualan Bersih
2012
4.839.145
27.303.248


                  Pada tahun 2012 hasil perhitungan Net Profit Margin sebesar 18% yang berarti setiap rupiah penjualan menghasilkan Rp 0,18
                        Dari perhitungan diatas terlihat bahwa adanya keuntungan yang dihasilkan dari penjualan meskipun 18%.


b)      Return On Investment (ROI)
Rasio ini mencerminkan kemampuan manajemen dalam mengatur aktiva-aktivanya seoptimal mungkin sehingga dicapai laba bersih yang diinginkan. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan semakin efisien dana yang ditanamkan.
ROI =  EAT : Total Aktiva
Tabel 6
Perhitungan Return On Investment PT Unilever
Tahun 2012
                                                                                                (Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
EAT
Total Aktiva
2012
4.839.145
11.984.312

Pada tahun 2012 hasil perhitungan ROI sebesar 40% yang berarti setiap rupiah aktiva menghasilkan keuntungan netto Rp 0,4.
Dilihat dari perhitungan diatas perusahaan tetap menghasilkan keuntungan walaupun keuntungan yang diberikan kepada investor kecil.


3)      Rasio Pasar
            Rasio pasar merupakan sekumpulan rasio yang menghubungkan harga saham dengan laba, nilai buku per saham, dan dividen. Rasio ini memberikan petunjuk mengenai apa yang dipikirkan invenstor atas kinerja perusahaan di masa lalu serta prospek di masa mendatang (Mulyadi, 2006:75).
Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat (investor) atau para pemegang saham menghargai perusahaan, sehingga mereka mau membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan nilai buku saham.

1. Rasio Pendapatan Per Lembar Saham (Earning Per Share)
Earning Per Share (EPS) biasanya menjadi perhatian pemegang saham pada umumnya atau calon pemegang saham dan manajmen. EPS menunjukan jumlah uang yang dihasilkan (return) dari setiap lembar saham. Semakin besar nilai EPS semakin besar keuntungan yang diterima pemegang saham.
Seorang investor membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan harapan akan memperoleh dividen atau capital gain. Laba biasanya menjadi dasar penentuan pembayaran dividen dan kenaikan harga saham di masa mendatang. Oleh karena itu, para pemegang saham biasanya tertarik dengan angka EPS yang dilaporkan perusahaan. EPS hanya dihitung untuk saham biasa.
EPS = (Laba bersih bagi pemegang saham biasa) / jumlah saham beredar

2. Rasio Harga Laba (Price Earning Ratio)
Price Earning Ratio (PER) menunjukan berapa banyak investor bersedia membayar untuk tiap rupiah dari laba yang dilaporkan. Oleh para investor rasio ini digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa yang akan datang. Kesedian para investor untuk menerima kenaikan PER sangat bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan dengan peluang tingkat pertumbuhan yang tinggi, biasanya memiliki PER yang tinggi. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung memiliki PER yang rendah.
PER = Harga pasar per lembar saham / Pendapatan per lembar saham

3. Rasio Pasar Per Buku (Price To Book Value Ratio)
Rasio ini menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi rasio ini, semakin besar tambahan kekayaan (wealth) yang dinikmati oleh pemilik perusahaan
Jika harga pasar berada di bawah nilai bukunya, investor memandang bahwa perusahaan tidak cukup potensial. Bila seorang investor pesimis atas prospek suatu saham, maka banyak saham dijual pada harga di bawah nilai bukunya. Sebaliknya jika investor optimis maka saham dijual dengan harga di atas nilai bukunya.
Book value per share (nilai buku per saham) dihitung dengan membagi ekuitas saham biasa dengan jumlah saham yang beredar.
PBV = Harga pasar per saham / Nilai buku per saham

4. Rasio Pendapatan Dividen (Dividend Yield Ratio)
Dividen yield merupakan sebagian dari total return yang akan diperoleh investor. Biasanya perusahaan yang mempunyai prospek pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai dividend yield yang rendah, karena dividen sebagian besar akan diinvestasikan kembali. Kemudian karena perusahaan dengan prospek yang tinggi akan mempunyai harga pasar saham yang tinggi, yang berarti pembaginya tinggi, maka dividend yield untuk perusahaan semacam ini akan cenderung lebih rendah.
DY = Dividen per lembar saham / Harga per lembar saham

5. Rasio Pembayaran Dividen (Dividend Payout Ratio)
Rasio ini melihat bagian pendapatan yang dibayarkan sebagai dividen kepada investor sedangkan bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan.
Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai rasio pembayaran dividen yang rendah. Sebaliknya perusahaan yang tingkat pertumbuhannya rendah akan mempunyai raio yang tinggi. Pembayaran dividen juga merupakan kebijakan dividen perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin lambat atau kecil pertumbuhan pendapatan perusahaan.
DPR = (Dividen per lembar saham / Pendapatan per lembar saham) x 100%

Contoh Soal :

DPS = Rp Rp15, 120 Milyar / 378 juta = Rp 40l
 EPS = Rp 92, 776442 / 378 juta = Rp 245l
 DPR = Rp 40 / Rp 245 = 16,32%l
 PER = Rp 1.450 / Rp 245 = 5,2x.l
 PBV = Rp 1.450 / Rp 1.000 = 1,45.l
 Dividend Yield = Rp 40 / Rp 1.450 = 2,75%.l


BAB IV
KESIMPULAN


Pada kinerja keuangan PT. Unilever,Tbk dapat dikatakan belum baik. Karena keuangan entitas dalam keadaan illiquid bisa dilihat dari nilai presantese current ratio dan quick rasionya yaitu 68% dan 39% dibawah 100%, yang berarti aktiva lancar sulit dijadikan jaminan untuk membayar hutang apabila terjadi likuidasi. Sehingga ketergantungan pada kreditor sangat besar untuk membiayai entitas. Meskipun entitas dalam keadaan illiquid tetapi entitas tetap dapat menghasilkan keuntungan walaupun keuntungan yang dihasilkan kecil.


DAFTAR PUSTAKA
Andra Kusumadiyanto.2006. Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Perusahaan Pada Kelompok Industri Rokok. Skripsi Universitas Widyatama.

Creelman James, dan Naresh Makhijani. 2012. Menciptakan Balanced Scorecard Untuk Organisasi Jasa Keuangan. Jakarta: Erlangga.

Erna Rizki Yoland. 2011. Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Alat Pengukuran Kinerja Yang Memadai  Pada Perusahaan Bio Tech Sarana Bandung. Jurnal Ilmiah Akuntansi, Vol 2 (no 5), 22-23.

Ikatan Akuntansi Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat, Jakarta.
Kaplan Robert S, dan Anthony A. Atkinson. 2012. Akuntansi Manajemen Edisi Kelima Jilid 2.    Jakarta: Indeks.
Lesmana, Rico dan Rudy Surjanto. (2005). Financial Performance Analyzing. PT Gramedia,Jakarta.
Sawir, Agnes. (2005). Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.